Skip to content
Galeri Foto dan Peta
Anda disini: Beranda arrow Profil arrow Profil Pinrang Tahun 2010
Sekretaris Kementerian BUMN Republik Indonesia, DR. Ir. Said Didu, menemui langsung sejumlah masyarakat penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dikucurkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) di wilayah Kecamatan Mattiro Sompa Pinrang, beberapa hari lalu.
Profil Pinrang 2010
Rabu, 21 April 2010

PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG

Pembangunan pertanian diarahkan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani dan nelayan, memperluas kesempatan kerja dan lapangan usaha serta mengisi dan memperluas pasar, baik dalam negeri maupun luar negeri melalui pertanian yang maju, efisien dan tangguh sehingga mampu meningkatkan mutu dan derajat pengolahan produksi dan pembangunan wilayah. Dengan demikian  pembangunan pertanian merupakan strategi dasar yang penting untuk mengentaskan kemiskinan mengingat negara kita adalah negara agraris.

Kebijakan pembangunan daerah Sulawesi Selatan telah di rancang dengan menempatkan sector pertanian sebagai sector unggulan atau leading sector. Dengan ditetapkannya tri konsep sebagai strategi dasar pembangunan Sulawesi Selatan yang kemudian menjadi tri program (Perwilayahan Komoditi, Perubahan Pola pikir dan petik olah jual) dan telah mengalami penajaman-penajaman dengan penetapan sentra produksi padi melipuiti 6 Kabupaten yang disebut Bosowa Sipilu (Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang dan Luwu). Untuk kopi, Karaeng Lompo (Kawasan Bawakaraeng dan Lompo Battang). Untuk hortikultura, Bosowa Sikumbang (Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Bulukumba dan Bantaeng).

 Dalam menghadapai krisis moneter yang terus berkembang menjadi krisis ekonomi, social dan politik, maka pemerintah daerah Sulawesi Selatan mencanangkan program Grateks-2 (Gerakan Peningkatan Produksi dan Ekspor 2 kali lipat). Dalam jangka tiga tahun komoditi grateks-2 tersebut sebagai komoditi unggulan yang mencakup 14 komoditi unggulan (komoditi ekspor dan substitusi Impor). Dan pada tahun 2008 Pemerintah Sulawesi Selatan merencanakan surplus beras 2 juta ton dan produksi jagung 1,5 ton dan dikembangkan Program Gernas Kakao Produksi Produksi 300.000 Ton, Populasi Ternak 1 Juta Ekor Sapi, Produksi Udang 33.200 Ton dan Penanaman Sejuta Pohon.

Berdasarkan kondisi daerah Kabupaten Pinrang yang potensial di sector pertanian, kelautan perikanan, perkebunan dan kehutanan maka pemerintah daerah dan instansi yang terkait berupaya lebih memacu di sektor pertanian dan perikanan dengan mengkoordinir berbagai program pembangunan baik nasional maupun regional melalui program sektor  pertanian, kelautan dan perikanan serta Peningkatan Pendapatan Asli Daerah yang bersumber dari kedua sektor tersebut. Penyusunan program  secara terpadu dalam memberikan pembinaan maupun pelyanan masyarakat, maka program sektor pertanian, kelautan dan perikanan secara luas terus ditingkatkan baik dari segi mutu maupun dari segi perluasan areal dengan tetap mengacu pada 4 (empat) Strategi Pembangunan Pertanian di Kabupaten Pinrang, yaitu :

1.    Peningkatan Produktifitas

2.    Optimalisasi Pemanfaatan Lahan

3.    Penguatan Kelembagaan

4.    Pendapatan Kedua

B.   VISI MISI KABUPATEN PINRANG

1.    VISI

Visi Kabupaten Pinrang, yaitu ”Terwujudnya Masyarakat Sejahtera Melalui Penataan Program Pembangunan Pro Rakyat menuju Terciptanya Kawasan Agropolitan yang didukung oleh Penerapan Prinsip-prinsip Tata Kelola Pemerintah” (Good Management). Visi adalah cara pandang jauh kedepan kemana organisasi harus dibawa agar dapat eksis antisipasi dan inovatif. Visi adalah suatu gambaran yang menantang keadaan masa depan yang diinginkan oleh organisasi. Sedangkan visi Dinas Pertanian dan Peternakan adalah : ”Terwujudnya Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Agropolitan seca Optimal dan Efisien dengan Penggunaan Teknologi Tepat Guna”

2.    MISI

Misi adalah pernyataan yang menetapkan tujuan organisasi dan sasaran yang ingin dicapai, pernyataan ini membawa organisasi kepada suatu fokus. Misi adalah sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh organisasi sesuai visi yang ditetapkan, agar tujuan organisasi dapat terlaksana dan berhasil dengan baik. Misi menjelaskan mengapa organisasi itu ada, apa yang dilakukannya dan bagaimana melakukannya.

Misi Kabupaten Pinrang sebagai berikut :

Ø  Meningkatkan kualitas SDM aparatur pemerintah yang profesional

Ø  Mengoptimalkan pemanfaatan dan pelestarian SDA yang berwawasan lingkungan dan memperkuat agribinis dan agroindustri

Ø  Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memperkuat kemandirian lokal

Ø  Meningkatkan kualitas pelayanan dibidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan

Ø  Meningkatkan dan mengembangkan sarana dan prasarana serta infrastruktur terutama pada sektor pertanian.

Ø  Meningkatkan pengamalan dan nilai-nilai keagamaan, Pancasila dan budaya lokal

Ø  Meningkatkan keamanan dan ketertiban umum

Misi Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Pinrang :

Ø  Memberdayakan Kelompok  Petani dalam memanfaatkan Potensi Sumber Daya Alam (Lahan dan Air) dan peluang-peluang Usaha Bisnis dalam Peningkatan dan Kesejahteraan

Ø  Menyediakan Pangan Asal ternak dan produk-produk unggulan yang cukup baik kualitas dan kuantitasnya

Ø  Memberdayakan SDM Petani agar menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi dipasarkan regional, nasional dan ekspor

Ø  Mendorong pengembangan agribisnis/agroindustri untuk mendukung pengembangan ekonomi daerah, memanfaatkan dan melestarikan sumber daya pendukung pertanian dan peternakan

Ø  Mewujudkan pembangunan pertanian berkelanjutan berwawasan lingkungan melalui pendekatan kemandirian lokal berbasis perdesaan

II.            KEADAAN UMUM WILAYAH

Kabupaten Pinrang salah satu wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, terletak 185 km dari ibukota Provinsi (Makassar) arah utara yang berbatasan dengan Kabupaten Polawali Mandar Provinsi Sulawesi Barat, luas wilayah 1.961,77 km2 atau 196.177 Ha yang terbagi ke dalam 12 Kecamatan, meliputi 68 desa dan 36 kelurahan yang terdiri dai 86 lingkungan dan 189 dusun.

Penggunaan lahan Kabupaten Pinrang terdiri atas lahan sawah yang terdiri :

A.   Lahan dan Potensi

1.    Luas Sawah                                  : 48.709 Ha
·         Pengairan teknis                          : 37.632 Ha
·         Pengairan ½  teknis                     : 2. 877 Ha
·         Tadah Hujan                                 : 4.722 Ha
·         Irigasi Desa/Non PU                    : 3.478 Ha
2.    Panjang saluranh, saluran induk 45,826 km,skunder 402,863 km,tersier 474,686 km,kwarter 1.263,690 km
3.    Lahan Bukan Sawah                   : 79.661 Ha
·         Pekarangan                                   : 5.495 Ha
·         Tegalan/Kebun                             : 21.059 Ha
·         Ladang/Huma                               : 5.062 Ha
·         Tambak/Kolam                              : 15.000 Ha
·         Lain-Lain                                        : 48. 045 Ha
4.    Lahan Bukan Pertanian              : 67.807 Ha
5.     Keadaan luas tanaman padi dan palawija tahun 2009.: 
-   padi                         :  86.757 ha
-.   Jagung                    : 18.351Ha
-    Ubi Kayu                 :   372Ha
-     Ubi Jalar                :    70Ha
-     Kacang Hijau         :  109 Ha
-    Kedelai                   :    632 Ha
-     Kacang Tanah       :    198 Ha
Pertanaman hortikultura terdiri dari beberapa jenis perincian dapat dilihat pada lampiran
6.    Peternakan Tahun 2009
a.    Lahan Pangonan/Pemupukan Ternak 6.199,6 Ha
b.    Populasi Ternak, yaitu :
·         Sapi Potong                             : 40.376 ekor
·         Sapi Perah                               : 13 ekor
·         Kerbau                                      : 4.800     ekor
·         Kuda                                         : 2.902     ekor
·         Babi                                           : 3.783     ekor
·         Kambing/Domba                    : 16.517   ekor
·         Ayam Ras Petelur                  : 516.188 ekor
·         Ayam Buras/Kampung          :1.473.703 ekor
·         Ayam Potong (Broiler)           : 100.200   ekor
·         Itik/Manila                                 : 582.50l ekor        

B.   Jumlah Penduduk

Jumlah Penduduk di Kabupaten Pinrang Tahun 2009 adalah 348.174 Jiwa tediri dari laki-laki 168.201 Jiwa (48,31%) dan Perempuan 179.973 Jiwa  (51,69%), dengan kepadatan penduduk rata-rata 166,95 Jiwa/km2 sedang penduduk produktif 196.132 jiwa (59,88%), tidak produktif 131.384 jiwa (20,12%).

Mata pencaharian penduduk Kabupaten Pinrang terdiri dri atas sektor Pertanian yaitu :

                        i.    Petani                          62.198 Kk  (68,61%)

                      ii.    Petani Nelayan          9.450 Kk (10,42%)

                     iii.    Petani Peternak         4.745 Kk (5,23%)

                     iv.    Pedagang/Pengusaha         11.576 Kk (12,76%)

                      v.    Jasa                             1.664 Kk (1,83%)

                     vi.    Dan lainnya               1.019 Kk (1,12%)

C.   LLetak Geografis dan Topografi

Kabupaten Pinrang adalah salah satu daerah dari 23 Kabupaten/Kota di Sulawesi selatan yang letaknya berada di bagian Barat Wilayah Propinsi Sulawesi Selatan tang jaraknya sekitar 182 km arah utara dari Kota Makassar ibukota Propinsi Sulawesi selatan berada pada posisi letak geografis yaitu LS 4010’30” -  30019’13” BT 119026’30” – 119047’20”.

 Kabupaten Pinrang memiliki luas wilayah 196.177 Ha atau dengan batas-batas sebagai berikut :

-       Sebelah Utara Berbatasan dengan Kab. Toraja

-       Sebelah Timur  Berbatasan dengan Kab.Enrekang  dan Sidrap

-       Sebelah Selatan  Berbatasan dengan Kota Pare-Pare

-       Sebelah Barat Berbatasan dengan kabupaten Polewali Mandar dan Selat Makassar

a.        Wilayah Administrasi

Kabupaten Pinrang terdiri dari 12 Kecamatan meliputi  64 Desa dan 39 kelurahan.

Kabupaten Pinrang memiliki garis pantai sepanjang 93 Km sehingga terdapat areal pertambakan sepanjang pantai, pada dataran rendah didominasi oleh areal persawahan, bahkan sampai perbukitan dan pegunungan.

Kondisi ini mendukung Kabupaten Pinrang sebagai daerah Potensial untuk sektor pertanian dan memungkinkan berbagai komoditi pertanian (Tanaman Pangan, perikanan, perkebuanan dan Peternakan) untuk dikembangkan. Ketinggian wilayah 0 – 500 m diatas permukaan laut ( 60, 41%), ketinggian 500 – 1000 m diatas permukaan laut ( 19,69% ) dan ketinggian 1000 m diatas permukaaan (9,90%)

b.    Keadaan Iklim

Kabupaten Pinrang dipengaruhi oleh 2 musim pada satu periode yang sama, untuk wilayah kecamatan Suppa dan Lembang di pengaruhi oleh musim Sektor barat dan lebih dikenal dengan sektor peralihan dan 10 kecamatan lainnya termasuk sektor timur. Dimana puncak hujan jatuh pada Bulan April dan Oktober. Berdasarkan data curah hujan termasuk tipe iklim A dan B (Daerah basah) suhu rata-rata normal 270C dengan kelembaban uadara kurang lebih 80% sampai 85%.

c.        Jenis Tanah

Kabupaten Pinrang mempunyai berbagai jenis tanah,diantaranya tanah aluvial gromosol, regesal brown forest dan podsolik. Jenis tanah yang menempati ruang terbesar di Kabupaten Pinrang menyusul tanah Regosol dan tanah Gromosol

III.           STRATEGI PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PETERNAKAN

1.    Peningkatan Produktivitas

Perbaikan teknologi budidaya melalui penggunaan benih unggul bermutu, pemupukan berimbang, pemakaian pupuk organik,pengelolaan pengairan, perbaikan budi daya dan tidak kalah pentingnya adalah pengawalan dan pendampingan.

2.    Pengurangan Lahan Bero (Optimalisasi pemanfaatan lahan)

Memperluas areal tanam, dapat dicapai melalui upaya perbaikan jaringan irigasi tingkat usaha tani (JITUT), Perbaikan Jaringan Irigasi Desa (JIDES), Konservasi lahan, pemanfaatan lahan kering dengan bantuan pompanisasi, penanaman palawija dan hortikultura.

3.    Penguatan Kelembagaan

Pengembangannya kelembagaan harus lebih dimantapkan, kelompok harus  kerja secara kolektif,  lebih diaktifkan dalam segala aktivitas kelompok, kelembagaan yang harus dikuatkannya yaitu :,kelompok tani ( Poktan), gabungan kelompok tani (Gapoktan), persatuan petani pemakai air (P3A), gabungan P3A, Induk P3A,koperasi tani (koptan ), penangkar benih/bibit, pasar desa, kelembagaan perlindungan tanaman dan berbagai assosiasi yang mendukung pembangunan pertanian secara luas.

4.    Pendapatan Kedua

Untuk mempercepat peningkatannya pendapatannya dan kesejahteraan petani, harusnya petani mempunyai pendapatan kedua atau pendapatan sela melalui  yaitu pemeliharaan ternak, integrasi padi dengan ternak, integrasi tanaman  perkebunan dengan ternak dan integrasi pohon dengan ternakternak.

IV.          PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PERIKANAN KABUPATEN PINRANG

A. DINAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN

1. Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

Luas Pertanaman Padi rata-rata lima tahun terakhir 86.305, 83 Ha, Produktifitas 59,55 (Kw/Ha), Produksi 491.295 Ton GKG, Surplus Beras 244.292 Ton, Setara Beras. Untuk lebih meningkatkan produksi dan kualitas hasil pertanian di perlukan beberapa usaha antara lain :

a.    Pengembangan Mekanisasi Pertanian

Kehadiran mekanisasi di Kabupaten Pinrang sudah menjadi kebutuhan mendesak untuk dipenuhi, demi memacu pembangunan dan tuntutan tekinologi dalam membangun pertanian yang maju khususnya di Sub Tanaman Pangan.

Untuk mendukung program tersebut sejak tahun 1999 Pemerintah Daerah memberuikan perhatian besar dalam membangun petani dalam mengatasi kebutuhan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) baik untuk kegiatan pra panen maupun pasca panen sebagai berikut :

      -. Alsintan untuk mendukung kegiatan pra panen

Prioritas utama adalah memenuhi kekurangan alat pengolahan tanah (traktor tangan) yang setiap musim tanam menjadi keluhan petani karena keterbatasan jumlah traktor yang ada (data Tahun 2009 Jumlah Traktor yang ada 3.061 Unit), dan areal sawah sekitar 48.000 Ha membutuhkan minimal 3.000 Unit Traktor sehingga waktu penyiapan lahan dapat memnuhi jadwal tanam yang tepat dalam upaya meningkatkan intensitas pemanfaatan lahan. Untuk mengatasi kekurangan traktor Pemerintah  daerah memprogramkan penambahan 899 unit traktor secara bertahap sejak tahun 1999, upaya yang ditempuh Pemerintah daerah adalah melakukan kerjasama dengan pihak pengusaha untuk menyalurkan traktor secara kredit kepada petani/kelompok tani yang diangsur setiap selesai panen, (melalui PERUSDA sebayak 20 unit). Pada tahun 2009 program ini ditingkatkan dengan kerja sama Pemerintah Kabupaten Pinrang dan Bank Sul-Sel Cabang Pinrang diberikan kredit maksimal 20 Juta dan bunga disubsidi Pemerintah Kabupaten sebesar 25% dengan bunga menurun

Disamping itu Kabupaten Pinrang mengadakan alat dan mesin pertanian melalui Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus Tahun Anggaran 2009 berupa :

1)        Reapper (Candue)                       : 5 unit

2)        Power Tresher                               : 5 Unit

3)        Hand Traktor                                  : 5 Unit

4)        Pompa Air dan Perlengakapan : 6 Unit

    -. Peningkatan Kemampuan dan Kualitas Penggilingan

Tantangan yang dihadapi dalam memasuki era globalisasi (pasar bebas) yang ada gejalanya sudah dirasakan saat ini, ini adalah kemampuan menghasilkan produk yang berkualitas yang dapat bersaing di pasaran. Upaya yang telah/sedang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan petani / kelompok tani untuk meningkatkan kualitas gabah melalui penerapan teknologi, penggunaan benih unggul dan pemupukan berimbang untuk menjamin produksi beras berkualitas.

 Selain itu juga sepenuhnya ditentukan oleh prosessing dalam hal ini kemampuan penggilingan. Pada umumnya penggilingan yang ada di kabupaten Pinrang mampu menghasilkan beras dengan kualitas medium, akan tetapi konsumen menghendaki yang lebih baik seperti beras kepala, super dan kristal.

Untuk memenuhi tuntutan pasar dan tuntutan konsumen perbaikan kualitas dan mutu beras harus di tingkatkan melalui rehabilitasi penggilingan padi beras,sehingga dapat menghasilkan beras kepala, beras super dan beras kristal

Menyadari hal tersebut maka pemerintah daerah bersama DPRD, Bulog, Bank Bukopin, PERPADI dan para Mitra Penggilingan Padi yang ada di kabupaten Pinrang bekerjasama untuk membantu para petani dalam pola penguasaan hasil (pemasaran)  antara mitra penggilingan dan kelompok tani  untuk memenuhi tuntutan pasar/konsumen.  Dan juga program Deptan 2009 merevitalisasi penggilingan padi kecil (PPK). Untuk meningkatkan rendimen dan kualitas gabah/beras.

b.    Peningkatan Intensitas Pemanfaatan Lahan

Usaha peningkatan intensitas pemanfaatan lahan sasaran utamanya dalam lahan-lahan yang sering tidak ditanami atau kurang berahsil menanam padi terutama disebabkan sulit terjangkau air pengairan dengan mengembangkan komoditi yang tidak terlalu banyak membutuhkan air seperti tanaman palawija dan sayur-sayuran sesuai kondisi setempat.

Program ini sekaligus sebagai upaya penganekaragaman (diversifikasi) untuk meningkatkan pendapatan petani. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk percontohan yang akan didukung oleh APBD Kabupaten Pinrang.

c.    Pengendalian Hama Penyakit

Ø   Kabupaten Pinrang sebagai daerah endemis beberapa jenis hama padi yaitu tikus, penggerek batang, wereng coklat dan penyakit tungro.

Ø   Pembinaan dan Pengendalian Hama terpadu (PHT) antara lain menganjurkan kepada kelompok tani melkukan penanaman secara serentak dan tepat waktu disamping penggunaan benih unggul.

Ø   Untuk mengantisipasi berkembangnya hama dilakukan pengamatan intensif yang dimotori oleh pengamat hama penyakit, PPL, dan Instalasi Pengamatan Peramalan dan Pengendalian Hama Penyakit Tanaman Tiroang, untuk mendapat rekomendasi pengendalian yang akan disampaikan kepada Petani/Kelompok Tani.

Ø   Memanfaatkan petani pemandu pengendalian hama terpadu melalui wadah Ikatan Petani Pengendali hama Terpadu (IPPHT) untuk bersama Pengamat Hama Penyakit (PHP) dan PPL melakukan pengamatan dan pembinaan kepada petani serta melaksanakan sekolah lapang pengendali hama terpadu (SLPHT)

Ø   Untuk mengatasi munculnya hama terutama pada sumber infeksi dan yang sifatnya aksflosi setiap tahun disediakan dana melalui APBD untuk pengadaan pestisida

Ø   Pembelian ekor tikus yang dinilai seharga Rp. 250 /ekor

d.    Pengembangan Pola Kemitraan

Kemitraan yang tengah bergerak adalah kemitraan perbanyakan benih hibrada SL 8 SHS, kemitraan perbanyakan hibrida sembado B3, Pembangunan Pabrik Pupuk Organik dan Pengembangan Sorgum 600 Ha. Kabupaten Pinrang memberi kemudahan bagi investor yang akan menanamkan modalnya. Disamping memperkuat kelembagaan petani (kelompok tani) diupayakan untuk menarik investor yang dapat bermitra dengan kelompok tani melalui temu usaha

 

e.    Pengembangan Sarana dan Prasarana

-          Bantuan SL-PTT Padi Non Hibrida 4500 Ha (180 Unit)

-          BLBU 2009 untuk padi hibrida 15.000 Ha, Jagung Hibrida 3000 Ha dan Kedelai 500 Ha

-          CBN 2009 Padi Non Hibrida 1.026 Ha, Padi Gogo 700 Ha (150 Ha), Jagung 5.507 Ha

-          APBN – P 2009 Padi Hibrida 5.500 Ha, Jagung 500 Ha, Kedelai 500 Ha

-          APBD I Padi Non Hibrida 100 Ha, Jagung 50 Ha dan Padi Hibrida 50 Ha

-          APBD II Jagung 150 Ha

-          Untuk tahun 2009 prioritas adalah penambahan jaringan jalan usaha tani dengan panjang 23.834 m dan bantuan keuangan provinsi 10.860 m, untuk mengurangi biaya angkut baik input (saran produksi) maupun produksi usaha tani. Disamping itu perbaikan jaringan irigasi yaitu Jitut dan Jides serta pembangunan/rehabilitasi gudang dan sanggar tani.

f.     Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia melalui Pemberdayaan Kelompok

Setelah mengevaluasi dan mencermati kondisi Sumber Daya Manusia Pertanian (Petani, Poktan, Gapkotan, P3A, GP3A, IP3A) yang menjadi tulang punggung pengembangan pertanian, pada umumnya memiliki keterbatasan-keterbatasan dan kelemahan dalam mengelola usaha taninya sehingga sumber daya alam yang ada belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Menyadari hal ini, pemerintah Kabupaten Pinrang berupaya menempuh langkah-langkah yang sifatnya terobosan dengan memperkuat kelembagaan petani melalui program kelompok tani binaan khusus (kelompok binsus).

Program ini dimaksudkan untuk mempersiapkan kelompok tani sebagai wadah berhimpunnya petani agar maju dan mandiri dalam rangka mengelola usahataninya untuk menghadapi tantangan pembangunan terutama pasar bebas dalam era globalisasi.

Tujuan Program ini adalah :

1)    Memberdayakan kelompok tani untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggota melalui peningkatan produktivitas usahatani.

2)    Kelompok tani dapat berkembang maju dan mandiri serta mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam berusaha tani.

3)    Fungsi kelompok tani sebagai belajar mengajar unit produksi dan wahana kerjasama dapat dirasakan manfaatnya oleh anggota (petani) dalam mengembangkan usaha tani dan kegiatan kemasyarakatan lainnya.

g.    Sasaran Pembinaan Kelompok Tani Binaan Khusus adalah sebagai berikut :

b.    Meningkatkan kemampuan merencanakan kegiatan untuk meningkatkan produktivitas usaha tani dengan memanfaatkan sumber daya alam secara optimal

c.    Meningkatkan kemampuan memupuk modal dan memanfaatkan pendapatan secara nasional

d.    Meningkatkan kemampuan berkoperasi

e.    Meningkatkan kemampuan menerapkan teknologi dan pemanfaatan informasi serta kerja sama kelompok yang tercermin dari tingkat produktivitas usaha anggota kelompok

f.     Meningkatkan kemampuan kerja sama/bermitra dengn pihak lain dan mentaati perjanjian yang telah disepakati.

`2. Peternakan

1)    Produksi Peternakan

Program strategis yang ditetapkan memasuki tahun 2009 sampai dengan Tahun 2010 meliputi :

·         Program Peningkatan ketahanan pangan asal ternak

·         Program agribisnis peternakan

·         Program pengamanan ternak

Implementasi program ini diarahkan kepada kegiatan sebagai berikut :

a.    Peningkatan produktivitas

Peningkatan produktivitas terdiri dari pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) secara terpadu yang diikuti dengan usaha-usaha penggemukan, persilangan ternak kearah dual purpose (sebagai sumber daging dan sumber susu) dan pengembangan sentra-sentra produksi yang baru.

b.    Peningkatan Populasi Ternak

Usaha peningkatan populasi ternak diarahkan terutama dalam upaya pengendalian pemotongan ternak betina produktif, pemberantasan penyakit, pengendalian penyakit reproduksi seperti Brucellosis, Pengembangan bibit ternak dan intensifikasi pakan ternak

c.    Substitusi dan Diversifikasi Produk

Pengembangan diversifikasi produk dimaksudkan agar tekanan terhadap pertumbuhan populasi ternak tertentu seperti sapi dapat dikurangi melalui pengembangan ternak lain seperti ayam buras dan itik, sehingga terjadi substitusi atau pergeseran  konsumsi dari daging sapi ke daging ayam, itik, dll

d.    Pengembangan Industri Penggunaan yang berbasis Sumber daya Lokal Industri perunggasan yang selama ini sangat bergantung pada bahan baku pakan import harus dikurangi atau bahkan dihentikan dengan pengembangan ternak-ternak yang lazim dipelihara. Selama itu pemanfaatan bahan baku pakan yang ada di sekitar lokasi.

e.    Pembinaan dan pengembangan kelembagaan

Pembinaan  kelembagaan ditujukan untuk memperkuat penangkar-penangkar bibit yang dilaksanakan oleh peternak sebagai pusat pembibitan yang mampu mengahsilkan bibit ternak yang berkualitas dikemudian hari. Termasuk dalam hal penataan organisasi dan pemberdayaan kelembagaan pusat pembibitan yang dibangun melalui dana proyek.

f.     Kabupaten Pinrang telah mengembangkan pengembangan pembibitan sapi sinental dan api liosin serta mengembangkan peternakan sistem zero waste. Pengembangan sapi di balai benih padi untuk memperlihatkan kepada masyarakat pengembangan sapi melalui integrasi padi dan ternak.

2)    Kesehatan Hewan

a.    Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Ternak

Keberhasilan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pinrang menekan angka kesulitan /kematian ternak melalui operasional vaksinasi dan pengobatan ternak milik petani, maka tahun 2009 telah berhasil divaksinasi sesuai dengan target yang telah ditentukan.

Pada tahun 2009 penyakit avian influenza terkendali dan tidak ada kasus HPAI di tingkat peternak.

Adapun tindakan-tindakan yang telah dilakukan Dinas Pertanian dan Peternakan dalam menekan kasus Flu Burung (AI)

b.    Biosecurity (Penyemprotan Kandang)

Kegiatan ini dilakukan pada daerah-daerah yang padat ternak unggas public awarness. Di tingkat peternak

c.    vaksinasi pada ternak komersial (sektor III). Secara swadaya dan rutin surveilance sampel darah dan mengikut antibody ayam.

Untuk tahun-tahun ke depan harapannya Kabupaten Pinrang mampu menekan kasus flu burung (AI) sampai tingkat 0 kasus. Hal ini dapat terlaksana dengan peran serta masyarakat dan peternak dalam rangka pengendalian dan pemberantasan flu burung.

3)    Pemotongan Ternak dan Penggemukan Ternak  (Pedaging)

Keberhasilan kegiatanoperasional vaksinasi dan pengobatan ternak secara menyeluruh dan kontinu maka angka kematian ternak khususnya ternak besar dapat ditekan serendah mungkin hingga mencapai 0,3 – 0,5% setiap tahun sehingga petani ternak dapat meningkatkan pendapatannya melalui penjualan ternaknya. Sehubungan dengan hal tersebut sampai Desember 2009 pemotongan ternak melalui Rumah Potong Hewan (RPH) Kabupaten Pinrang telah dilaksanakan sebanyak 1.335 ekor

B..KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN PINRANG

Luas kawasan hutan di Kabupaten Pinrang sebesar 72.831 Ha terdiri atas Hutan Lindung seluas 46.782 Ha dan Hutan produksi seluas 26.049 Ha. Luas lahan kritis di dalam kawasan hutan seluas 11.060 Ha.

Penertiban dokumen surat asal usul hasil hutan (SKAU) dalam tahun 2009 sebanyak 62 set dengan total volume 639,5723 m3.

Luas areal perkebunan pada tahun 2009 di Kabupaten Pinrang sebesar 47.271 Ha dengan produksi sebesar 24.510,5 ton.

Luas areal tanaman perkebunan di Kabupaten Pinrang pada tahun 2008 mencapai ±46.291 Ha meningkat menjadi 47.224 Ha pada tahun 2009 berarti terjadi peningkatan sebesar 933 Ha (2%).

Tabel 10. Perkembangan Luas Areal Tanaman Perkebunan

 

No.

 

Uraian

Luas Areal (Ha)

 

Persentase

2008

2009

1.

 

2.

Perkebunan besar swasta partial/rakyat swadaya

Pola partial/rakyat swadaya

784

 

45.507

784

 

46.487

0

 

2

 

Jumlah

45.291

47.271

2

Tabel 11. Luas Areal dan Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat Tahun 2009

 

No

 

Komoditi

2008

2009

Persentase

Luas

(Ha)

Produksi

(Ton)

Luas

(Ha)

Produksi

(Ton)

1

2

 

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

Kelapa dalam

Kelapa Hybrida

Kakao

Kopi robusta

Kopi arabika

Jambu mete

Kemiri

Cengkeh

Kapuk

Lada

Panili

Aren

Pinang

Jarak

Kelapa sawit

10.733

2.555

 

21.758

3.773

361

2.969

1.347

311

350

113

92

386

94

630

35

5.752

2.879

 

10.637

2.554

213

494

590

65

26

10

0

224

29

12

0

10.733

2.555

 

21.758

3.773

361

2.969

1.347

311

350

113

92

386

94

630

35

6.462

2.886

 

10.599

2.554

213

494

590

65

26

10

0

224

29

12

3,5

12,34

0,24

 

0,35

0,00

0,00

1,21

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

Analisa Permasalahan dan Tindak Lanjut  Kehutanan dan Perkebunan

A.   Analisa Permasalahan

1.    Bidang Kehutanan

·         Lahan kritis didalam kawasan hutan dan diluar kawasan mencapai 16.243 Ha

·         Terjadinya perambahan hutan

·         Data rill SDA hutan kurang lengkap

·         Kesadaan masyarakat tentang pentingnya fungsi hutan masih rendah

·         Sebagian hutan mangrove mengalami kerusakan karena eksploitasi yang berlebihan

·         Pengikisan pesisir pantai yang diakibatkan oleh airlaut (abrasi)

·         Pendangkalan pada muara sungai akibat endapan yang terbawa dari hulu

·         Rendahnya kualitas kelembagaan petani dalam hal ini kelompok tani hutan

·         Terbatasnya dana untuk membiayai program yang ada

·         Pencairan dana kegiatan sering terlambat sehingga menghambat pelaksanaan kegiatan, khususnya kegiatan penanaman

2.    Bidang Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam

·         Kurangnya sarana dan prasarana operasional kegiatan seperti kendaraan operasional,persenjataan,alat komunikasi dan personil petugas kehutanan yang tidak memadai dibanding dengan luas hutan yang ada

·         Kurangnya kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan teknik dan pengetahun bagi personil petugas kehutanan

·         Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian hutan

·         Pengawasan peredaran hasil hutan kurang efektif karena pihak-pihak yang mengintervensi terhadap pelaksanaan pengawasan

·         Penerimaan restribusi mengalami penurunan karena kurangnya kayu yang masuk ke wilayah Pinrang

·         Terbatasnya dana untuk membiayai kegiatan yang ada

3.    Bidang Perkebunan

·         Produtivitas tanaman yang dicapai belum optimal

·         Adanya serangan OPT terutama serangan hama pengerek buah Kakao (PBK)

·         Masih lemahnya kelembagaan petani, terutama kerjasam pemasaran produk pertanian

·         Lembaga perekonomian petani berupa koperasi primer di tingkat kelompok tani berjalan lambat, karena lemahnya permodalan

·         Harga benih kurang terjangkau oleh daya beli petani

4.    Bidang Agribisnis dan Agroindustri

·         Wadah kelembagaan belum sepenuhnya berperan sebagai mitra petani perkebunan, baik dalam penyaluran dan produksi maupun penanganan/pemasaran hasil, sehingga hasil produksi masih dipasarkan secara bebas melalui pedagang perantara baik di desa, kecamatan dan di tingkat kabupaten

·         Pengembangan sarana pengolahan hasil produk yang belum optimal

·         Informasi harga pasar belum diakses secara cepat oleh petani sehingga harga komoditas ditentukan oleh pedadang

·         Pengembangan sarana pengolahan hasil produk yang belum optimal

·         Kualitas produksi perkebunan yang dihasilkan oleh petani belum sesuai dengan standar yang diinginkan pasar

B.   Tindak Lanjut Permasalahan

·         Penanggulangan lahan kritis dilakukan melalui kegiatan proyek seperti pembuatan bibit/benih tanaman kehutanan dan pembuatan tanaman hutan rakyat

·         Diadakannya inventarisasi potensi sumber daya alam untuk menentukan arah pembangunan kehutanan di masa yang akan datang

·         Untuk masalah pendangkalan pada muara sungai maka perlu diadakan pengelolan DAS secara terpadu baik antar sektor maupun politik Pemda Pinrang

·         Peran serta masyarakat dalam rehabilitasi hutan dan lahan harus lebih diintensifkan dan diberikan penyuluhan tentang pentingnya fungsi dan manfaat hutan bagi kehidupan manusia

·         Mengoptimalkan fungsi petugas kehutanan yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana kelengkapan tugas serta penunjang kegiatan operasional lapangan seperti kendaraan operasional

·         Perbaikan mutu kakao  dengan tanaman melalui sambung samping dan sambung pucuk pada tanaman yang berumur tua dan tidak produktif dengan menggunakan entries klon unggul dan resisten terhadap serangan penyakit

·         Perbaikan mutu tanaman juga telah dilakukan dengan kegiatan peremajaan tanaman

·         Pada tanaaman yang produktif dilakukan pemeliharaan tanaman dengan aplikasi pemupukan, sanitasi kebun dan pemangkasan tanaman

·         Untuk menekan intensitas serangan hama telah dilakukan upaya pengendalian tanaman dengan menerapkan Teknik Pengendalian Hama/Penyakit secara Terpadu (PHT)

C.   KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN PINRANG

Perikanan merupakan semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan. Dalam statistik perikanan yang dimaksud dengan perikanan adalah kegiatan ekonomi dalam bidang penangkapan ikan dan atau pembudidayaan ikan serta paska panen ikan.

Tabel 12. Luas dan Produksi serta nilai Produksi Usaha Budi Daya Udang di Kab. Pinrang

 

 

No

 

Tahun

 

Luas

(Ha)

 

Produksi

(Ton)

Nilai Produksi

(000 Rp)

1

2

3

4

5

2004

2005

2006

2007

2008

15.735,00

15.852,30

15.834,00

15.814,00

15.795,50

2.233,92

2.267,43

2.269,13

2.148,50

2.148,35

85.632.855

97.637.821

79.419.550

64.455.000

79.494.500

 

Tabel 13. Luas Pemeliharaan/Penangkapan Ikan Kab. Pinrang

               (Ha)

No

Tahun

Kolam

Sawah

Tambak

Rawa

Sungai

Jumlah

 

1

2

3

4

5

 

2004

2005

2006

2007

2008

 

832,10

834,20

837,60

841,03

851,03

 

51,65

103

111

111

121

 

15.735

15.852,3

15.834

15.814

15.795,5

 

299,6

293,1

265,8

262,2

262,2

 

125

125

125

125

125

 

17.040,4

17.202,6

17.173,4

17.153,2

17.154,7

 

Tabel 14. Produksi Perikanan di Kabupaten Pinrang (Ton)

 

 

No

 

Tahun

Perikanan Laut

Empang/Tambak

Ikan

Udang

Ikan

Udang

 

1

2

3

4

5

 

2004

2005

2006

2007

2008

 

10.578,4

10.704,8

10.892,2

10.901,7

10.923,6

 

277,06

280,38

279,68

279,92

281,32

 

14.921,03

14.946,4

14.968,8

15.068,1

15.060,5

 

2.233,9

2.267,4

2.269,1

2.148,5

1.148,3

 

Tabel 15. Produksi Total Ikan Segar dari Sumber Budidaya di Kabupaten Pinrang (Ton)

 

No

Tahun

Tambak

Kolam

Sawah

Jumlah

 

1

2

3

4

5

 

2004

2005

2006

2007

2008

 

14.921,03

14.946,4

14.968,8

15.068,1

15.060,6

 

486,81

499,38

513,11

527,22

528,27

 

38,10

38,67

39,44

39,83

39,91

 

15.445,94

15.484,45

15.521,37

15.635,16

15.628,76

 

Lampiran - Lampiran

 

Tabel 1. Surplus Beras di Kabupaten Pinrang Tahun 2004 – 2009 dapat dilihat pada tabel berikut :

 

 

No

 

Tahun

Jumlah

Produksi

Setara Beras

(Ton)

Surplus Beras

(Ton)

 

1

2

3

4

5

6

 

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

433.534

501.109

489.617

540.115

467.426

506.970

 

242.734

280.365

293.740

324.249

350.188

300.984

 

190.933

226.901

234.998

270.075

291.681

251.166

 

 

Rata-Rata

 

489.795

 

298.710

 

244.292

 

Tabel 2. Perkembangan Luas Tanam, Panen dan Produksi Padi di Kabupaten Pinrang Tahun 2004 – 2009

 

No

Tahun

Tanam

(Ha)

Panen

(Ha)

Produktivitas

(Kw/Ha)

Produksi

(Ton)

1

2

3

4

5

6

2004

2005

2006

2007

2008

2009

76.936

86.754

78.502

87.751

91.135

96.757

76.936

80.746

78.502

85.259

86.623

86.721

56,35

62,06

62,37

63,05

55,00

58,46

433.534

501.109

489.617

540.115

476.426

506.970

 

Tabel 3. Perkembangan Luas Tanam, Panen dan Produksi Palawija di Kabupaten Pinrang tahun 2004 – 2009

 

No

Tahun

Tanam

(Ha)

Panen

(Ha)

Produktivitas

(Kw/Ha)

Produksi

(Ton)

I

1

2

3

4

5

6

KEDELAI

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

137

312

338

171

502

632

 

104

251

303

183

447

581

 

18,50

18,75

18,84

18,55

18,55

20,00

 

192

471

571

345

870

1.162

II

1

2

3

4

5

6

JAGUNG

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

601

1.407

1.709

5.549

14.677

18.351

 

576

1.013

883

3.904

12.765

14.230

 

25,15

25,47

25,60

35,15

35,15

57,33

 

1.447

2.580

2.260

13.178

44.868

81.581

III

 

1

2

3

4

5

6

KACANG TANAH

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

 

46

100

45

80

109

109

 

 

48

86

51

55

89

132

 

 

15,25

15,55

15,63

15,65

15,65

21,50

 

 

73

134

80

86

139

283,8

IV

 

1

2

3

4

5

6

KACANG HIJAU

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

 

179

365

208

79

145

198

 

 

179

359

193

54

121

189

 

 

9,95

9,98

10,03

11,60

11,60

21,50

 

 

179

358

193

60

141

223,02

V

1

2

3

4

5

6

UBI KAYU

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

374

461

312

438

630

372

 

457

367

372

360

568

384

 

230,15

230,50

230,75

230,50

234,60

170,00

 

10.518

8.459

8.584

8.436

13.325

6.528

VI

1

2

3

4

5

6

UBI JALAR

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

64

91

79

81

69

70

 

78

89

86

89

69

65

 

77,50

78,15

78,54

80,70

80,70

80,50

 

605

695

675

859

540

404

 

 

Tabel 4. Perkembangan Luas Tanam, Panen dan Produksi

Sayuran Tahun 2004 – 2009 Kabupaten Pinrang

No

Tahun

Tanam

(Ha)

Panen

(Ha)

Produktivitas

(Kw/Ha)

Produksi

(Ton)

I

1

2

3

4

5

6

BAYAM

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

126

149

55

60

100

80

 

126

149

55

50

100

94

 

2,18

3,38

12,18

7,36

20,25

23,24

 

27,5

50,4

46,3

36,8

203

218,5

II

 

1

2

3

4

5

6

KACANG PANJANG

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

 

143

229

177

154

130

118

 

 

119

229

177

129

130

134

 

 

4,39

8,12

11,21

17,62

20,75

25,69

 

 

52,3

186,0

198,5

227,3

270

344,4

III

1

2

3

4

5

6

TOMAT

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

118

157

206

131

100

89

 

118

157

206

119

100

83

 

6,82

7,50

26,35

21,35

35,88

59,70

 

80,5

118,0

292,5

254,1

359

495,50

IV

1

2

3

4

5

6

CABE

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

187

301

1.305

342

115

347

 

187

301

1.305

329

141

190

 

5,42

7,00

15,71

21,77

32,74

40,14

 

101,30

211,00

471,30

728,60

462

762,70

V

1

2

3

4

5

6

KANGKUNG

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

105

162

38

52

85

87

 

105

162

38

43

85

100

 

2,21

2,30

12,18

21,77

35,03

23,11

 

23,20

38,30

46,30

35,90

203

231,10

VI

1

2

3

4

5

6

TERUNG

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

123

195

259

90

56

68

 

123

195

259

79

77

85

 

6,73

8,10

9,08

36,30

58,19

72,49

 

82,80

158,00

235,30

289,80

448

616,20

 

Tabel 5. Perkembangan Luas Tanam, Panen dan Produksi Buah-buahan Tahun 2004 – 2009 Kabupaten Pinrang

 

No

Tahun

Tanam

(Ha)

Panen

(Ha)

Produktivitas

(Kw/Ha)

Produksi

(Ton)

I

1

2

3

4

5

6

DURIAN

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

19.822

53.958

52.753

54.083

54.968

988

 

5.544

12.381

12.950

15.329

2.373

42.949

 

1,10

0,82

0,19

0,67

1,26

0,87

 

611,5

1.025,9

250,5

1.030,3

299,6

3.734,4

II

1

2

3

4

5

6

RAMBUTAN

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

33.743

54.577

59.953

59.618

59.930

400

 

14.745

25.698

18.445

7.806

10.631

4.850

 

0,43

0,55

1,21

1,32

0,80

1,14

 

636,7

1.422,9

2.222,7

1.031,1

855,7

5.227,0

III

1

2

3

4

5

6

MANGGA

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

127.001

152.254

157.269

161.365

161.200

57.932

 

102.875

180.763

110.967

88.813

124.981

120.192

 

0,29

0,14

0,40

1,47

1,64

1,72

 

2.975,6

2.516,6

4.409,2

13.066,7

20.480,4

20.699,2

IV

1

2

3

4

5

6

PISANG

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

827.753

904.359

1.037.94980.554

918.940

10.676

 

584.559

2.635.881

747.050

811.239

909.146

884.649

 

0,20

0,20

0,51

0,40

1,87

1,27

 

9.847,70

46.900,80

38.744,70

32.657,00

170.216,6

112.005,2

V

1

2

3

4

5

6

SALAK

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

157.145

158.233

156.033

155.803

153.441

-

 

145.682

643.450

153.357

150.218

153.364

150.445

 

0,03

0,03

0,81

0,58

0,32

0,20

 

446,0

1.769,7

2.796,9

8.692,1

4.835,5

2.941,5

VI

1

2

3

4

5

6

NENAS

2004

2005

2006

2007

2008

2009

 

149.069

152.365

154.405

157.808

247.677

152.518

 

142.296

577.500

151.571

148.688

151.499

152.518

 

0,20

0,20

0,02

0,02

0,02

0,04

 

242,6

910,1

360,5

308,9

321,6

640

 

Tabel 6. Perkembangan Populasi Ternak Besar Tahun 2004 – 2009 Kabupaten Pinrang

 

No

Tahun

Sapi (ekor)

Kerbau (ekor)

Kuda (ekor)

1

2

3

4

5

6

2004

2005

2006

2007

2008

2009

36.798

37.371

37.932

38.011

40.051

40.376

4.818

4.890

5.036

4.509

4.780

4.800

3.962

4.041

4.081

2.723

2.888

2.902

 

Tabel 7. Perkembangan Populasi Ternak Besar Tahun 2004 – 2009 Kabupaten Pinrang

 

No

Tahun

Kambing (ekor)

Babi (ekor)

1

2

3

4

5

6

2004

2005

2006

2007

2008

2009

15.449

15.954

16.592

15.054

16.017

16.517

3.322

3.497

3.629

2.919

3.084

3.783

 

Tabel 8. Perkembangan Populasi Ternak Unggas Tahun 2004 – 2009 Kabupaten Pinrang

 

No

Tahun

Ayam buras (ekor)

Ayam Ras (ekor)

Itik (ekor)

1

2

3

4

5

6

2004

2005

2006

2007

2008

2009

1.315.973

1.401.133

1.429.145

1.357.396

1.372.150

1.473.703

217.727

224.577

369.763

383.933

403.389

100.200

452.678

497.759

526.758

492.249

594.522

582.501

 

 

Tabel 9. Perkembangan Produksi Daging dan Telur Tahun 2004 – 2009 Kabupaten Pinrang

 

No

Tahun

Daging (Ton)

Telur (Ton)

1

2

3

4

5

6

2004

2005

2006

2007

2008

2009

1.863.000

1.863.334

2.067.898

2.899.894

2.986.874

2.363.890

4.826

5.401

6.075

6.611

7.148

6.127

 

 


 

 

 

 

 
Pinrang di Google Maps

Jam

Taut Penting

www.sulsel.go.id
www.bps.go.id/~sulsel/

Pencarian

Isi Buku Tamu

Pengunjung Online

Saat ini ada 18 tamu online